Rabu, 03 November 2010

rancangan instalasi listrik 1( dua lampu )


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Sebagai seorang mahasiswa teknik listrik sangatlah penting untuk mengengetahui bagaimana cara menginstalasi listrik dengan baik dan benar. Dari praktikum terdahulu, sekarang rancangan instalsi lebih di tingkatkan lagi yaitu merancang instalasi listrik yang menggunakan satu saklar tunggal untuk menghidupkan satu buah bel dan satu buah saklar seri untuk menghidupkan dua buah lampu, serta menginstalasi satu buah stop kontak.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana cara menginstalasi satu buah saklar tunggal untuk menghidupkan satu buah bel listrik ?
2.      Bagaimana cara menginstalasi satu buah saklar seri untuk menghuidupkan dua buah lampu ?
3.      Bagaimana cara menginstalasi satu buah stop kontak ?

C.     Tujuan Masalah
1.      Agar tahu bagaimana cara menginstalasi satu buah bel listrik dengan menggunakan satu  buah saklar tunggal.
2.      Agar tahu bagaimana cara menginstalasi dua buah lampu dengan menggunakan satu saklar seri.
3.      Agar tahu bagaimana cara menginstalasi satu buah stop kontak.
D.    Manfaat
1.      Bagi diri sendiri    : Dapat menambah ilmu dan pengetahuan di bidang instalasi   listrik.
2.      Bagi masyarakat    : Dapat membantu masyarakat apabila dibutuhkan tenaga instalasi listrik.
3.      Bagi Politeknik     : Menjadikan mahasiswa Politeknik berbakat di bidang instalasi, sehingga apabila di butuhkan dapat membantu kampus dalam bidang instalasi listrik.
















BAB II
LANDASAN TEORI

A.    KWh Meter
KWh meter merupakan meter elektrik yang digunakan untuk mengukur listrik yang disediakan oleh perusahaan listrik (di Indonesia dikenal dengan PLN). Meter elektrik ini tidak hanya digunakan untuk mengukur energi listrik dari perumahan, industri ataupun pertokoan pertokoan melainkan juga untuk mengukur energi listrik yang lewat berbagai bagian dari sistem pembangkitan, transmisi, dan distribusi.
n_gambar3

Gambar 2.1 KWh Meter
Thuran Gonen, Electric Power Distribution System Engineeing.
 New York: McGrawHill Book Company, 1986, p.77

Di Indonesia khususnya dalam pemasangan KWh meter terdapat beberapa
persyaratan yang harus dipenuhi antara lain :
1.      Pemasangan KWh meter setelah pembatas arus.
2.      Dalam kondisi tersegel oleh PLN.
3.      KWh merupakan milik PLN.
4.      Pemasangan di tempat yang terlindung dari cuaca dan aman.
5.      Mudah dilihat .
Fungsi dan Prinsip Kerja KWH Meter

KWH Meter adalah alat penghitung pemakaian energi listrik. Alat ini bekerja menggunakan metode induksi medan magnet dimana medan magnet tersebut menggerakan piringan yang terbuat dari alumunium. Pada piringan alumunium itu terdapat as yang mana as tersebut akan menggerakan counter digit sebagai tampilan jumlah KWH nya.
KWH Meter memiliki 3 kumparan yaitu 1 kumparan tegangan dengan koil yang diameternya tipis dan 2 kumparan arus dengan koil yang diameternya tebal. Pada KWH Meter juga terdapat magnet permanen yang tugasnya menetralkan piringan alumunium dari induksi medan magnet. ( Thuran Gonen, Electric Power Distribution System Engineeing, New York: McGrawHill Book Company, 1986, p.77. )
B.     MCB ( Mini Circuit Breaker )
MCB adalah pemutus hubungan listrik secara otomatis bila mana daya / tegangan melampaui standar yang ditentukan. Gunanya untuk mencegah terjadinya konsleting / hubungan arus pendek ataupun kerusakan peralatan listrik akibat melonjaknya tegangan listrik.
            Dengan adanya MCB maka setiap kali arus listrik over sehingga circuit terputus, sesudah instalasi normal kembali maka untuk menghidupkan listrik cukup dengan menekan tuas / saklar pada MCB.
IMG_0018


Gambar 2.2 MCB
Sumber Teknik Listrik. Seip, Gunter G. 1987. Electrical Installation Handbook Volume 1.
Siemens : England



Prinsip Kerja MCB
            Thermis, prinsip kerjanya berdasarkan pada pemuaian atau pemutusan dua jenis logam yang koefesien jenisnya berbeda. Kedua jenis logam tersebut di las jadi satu keping ( bimetal ) dan dihubungkan dengan kawat arus. Jika arus yang melalui bimetal tersebut melebihi arus nominal yang diperkenankan maka bimetal tersebut akan melengkung dan memutuskan aliran listrik.
            Magnetik, prinsip kerjanya adalah memanfaatkan arus hubung singkat yang cukup besar untuk menarik sakelar mekanik dengan prinsip induksi elektromagnetis. Semakin besar arus hubung singkat, maka semakin besar gaya yang menggerakkan sakelar tersebut. Sehingga lebih cepat memutuskan rangkaian listrik dan gagang operasi akan kembali ke posisi off. Busur api yang terjadi masuk ke dalam ruangan yang terbentuk pelat-pelat, tempat busur api dipisahkan, didinginkan dan dipadamkan dengan cepat. ( Gunter G. ( 1987:23 ))
C.     Fuse/ Sekring
Fuse/ sekring merupakan circuit breaker untuk kapasitas pemutusan yang rendah. Pada umumnya dipakai untuk pengaman dan pemutusan overcurrent komponen-komponen yang kapasitas arusnya rendah sama seperti MCB. Fuse juga sering dipakai untuk instalasi rumah tangga. Fuse/ sekring terdapat yang 1 pole, 2 pole, 3 pole, dan 4 pole.

Gambar 2.3 Sekring / fuse
http://02-fresh .blogspot.com/2009/11/sekring.html

Bahan dasar sekring terdiri dari sebatang kawat yang terbuat dari perak dengan campuran beberapa logam seperti seng, tembaga dan timbal. Kawat ini akan putus bila dilalui arus yang melebihi ratingnya. Bila putus, maka sekring harus diganti dengan jenis yang baru. ( C. Sankaran 133 )

D.     Saklar
Saklar termasuk bahan jadi yang merupakan komponen listrik yang digunanakan untuk menghubungkan dan memutuskan arus listrik. Saklar sangat banyak macam dan jenisnya, misalnya untuk keperluan instalasi penerangan, untuk instalasi tenaga, untuk instalasi tegangan tinggi dan banyak lagi lainnya.
Gambar 2.4 Saklar seri dan saklar tunggal


Macam-macam saklar yang banyak dijumpai pada intalasi penerangan pada kehidupan sehari-hari :
a.       Saklar tunggal, satu saklar melayani satu lampu.
b.      Saklar seri, satu saklar melayani dua lampu.
c.       Saklar tukar, bisa digunakan sebagai saklar tunggal bias digunakan sebagai saklar tukar.
d.      Saklar kutub ganda/saklar dwi kutub, banyak digunakan pada box sekring / sekring kas. ( Supaat, “Dasar-dasar Instalasi Listrik”, Jakarta, 1996 )

E.     Fiting
Fiting adalah merupakan bahan/komponen listrik yang digunakanuntuk penempatan lampu khususnya lampu pijar. Tetapi perkembangan di listrik fiting tidak hanya digunakan untuk lampu pijar melainkan juga untuk lampu PL.
Fiting banyak sekali jenis dan macamnya, dan pembahasan di laporan ini terbatas pada fiting yang banyak kita jumpai pada kehidupan sehari-hari untuk instalasi penerangan, yatu :
1.      Fiting duduk, digunakan untuk menetapkan lampu pijar atau lampu PL.
2.      Fiting gantung, digunakan untuk lampu gantung dibawah plafon.
3.      Fiting duduk miring, digunakan pada dinding agar sinarnya merata keseluruh ruangan.
4.      Fiting kedap air / WD, digunakan pada kamar mandi/daerah yang lembab.
( Menggunakan Alat-alat dan Bahan Listrik SMK Bidang Perkapalan Program Keahlian Listrik Kapal )

F.      Lampu

Lampu Secara Umum
Lampu dalam perkembangannya dewasa ini menjadi salah satu media penerangan penting buatan manusia untuk menggantikan keberadaan cahaya matahari. Seiring dengan kemajuan teknologi, lampu telah mengalami banyak perubahan bila dibandingkan dengan awal penemuannya. Lampu pertama kali ditemukan pada tahun 1878 oleh Thomas Alva Edison dalam bentuk lampu pijar, penemuan tersebut berawal dari ide untuk membuat lampu dengan filamen yang terbuat dari platinum kemudian dialiri arus, dimana logam platinum tersebut sukar untuk teroksidasi dan mempunyai titik lebur yang tinggi. Namun pada awal-awal percobaan, lampu tersebut padam setiap beberapa menit karena filamen tersebut mendapatkan panas yang berlebih dan terbakar akibat masih adanya kontak dengan udara luar.
Kemudian dari hasil eksperimen-eksperimen yang telah dilakukan dengan filamen platinum, Thomas Alva Edison menemukan bahwa pada filamen-filamen yang panas mengeluarkan gas yang terjebak di dalam logam tersebut, sehingga diperlukan sebuah desain untuk membuat udara di sekitar filamen menjadi hampa udara agar tidak terjadi kontak antara gas yang dihasilkan oleh filamen dengan udara. Oleh karena itu, hingga saat ini lampu dibuat dengan konstruksi berbentuk ruang hampa udara.
Secara umum konsep dasar dari sebuah lampu adalah salah satu bentuk pemanfaatan radiasi elektromagnetik yang dihasilkan dari transfer energi baik yang bersifat fisik maupun kimiawi yang terjadi pada saat lampu menyala. Radiasi elektromagnetik tidak semuanya dapat mudah terlihat oleh mata manusia, untuk menghasilkan radiasi elektromagnetik yang dapat terlihat oleh manusia dengan mata telanjang tanpa bantuan apa pun, dipilihlah radiasi dengan panjang gelombang antara 380 nm sampai dengan 780 nm, karena pada panjang gelombang inilah radiasi gelombang elektromagnetik lebih efisien untuk dapat diubah menjadi terlihat oleh manusia. Gelombang yang dapat terlihat oleh manusia itulah yang selanjutnya merupakan cahaya yang dihasilkan oleh lampu.

Gambar 2.5 lampu pijar
Thuran Gonen, Electric Power Distribution System Engineeing.
 New York: McGrawHill Book Company, 1986, p.77

Daya kerja lampu pada umumnya sangat dipengaruhi oleh karakteristik material pembuatnya. Dengan semakin banyaknya fungsi dan kegunaan lampu pada kondisi yang berbeda-beda, tidak menutup kemungkinan adanya penggunaan bahan material yang beraneka ragam. Hingga saat ini, empat material dasar yang banyak dipakai untuk memproduksi lampu adalah kaca, keramik, logam, dan gas.
1.      Kaca
Kaca termasuk dalam golongan anorganik non-crystaline, penggunaan kaca pada lampu digunakan untuk membuat tabung kaca yang menutupi filament dari udara luar sehingga terbentuk ruang hampa udara, sehingga dibutuhkan untuk kaca yang dapat menahan panas radiasi filamen. Tiga macam material utama pembentuk kaca yang dipakai untuk pembuatan lampu adalah soda-lime silicate, lead-alkali silicate, borosilicate. Namun bahan material kaca yang paling banyak digunakan pada industri lampu adalah soda-lime silicate, selain harganya yang relatif lebih murah, dengan bahan mentah yang sedikit tanpa banyak menggunakan campuran bahan yang lainnya, dapat diandalkan untuk dijadikan tabung penutup pada berbagai macam lampu. Misalnya : Lampu Incandescent, Lampu Flourescent.
2.       Keramik
Pada umumnya keramik dahulu tersusun dari bahan porselen, namun dalam perkembangannya keramik tersusun dari bahan silica dan alumina dengan komposisi yang seimbang, pada lampu digunakan untuk bagian dasar lampu incandescent ataupun fluorescent untuk meredam panas serta sebagai isolator.
3.      Logam
Logam yang dimaksudkan di sini adalah logam pembuat kawat filament lampu. Untuk mendapatkan efisiensi yang tinggi, hal mendasar yang penting dimiliki oleh logam pembuat filamen harus dapat dioperasikan pada temperature yang tinggi (panas) serta sekaligus juga dapat dijadikan sebagai pendingin sesaat setelah dimatikan. Beberapa faktor yang harus dimiliki antara lain adalah :
a.       Memiliki tingkat evaporasi yang rendah.
b.      Memiliki tingkat ketahanan yang stabil.
c.       Memiliki stabilitas mikrostruktural yang stabil.
Sayangnya tidak ada material yang memiliki semua faktor-faktor di atas, sehingga beberapa perubahan pada material seringkali dilakukan. Pada saat ini secara umum banyak digunakan material tungsten sebagai filamen kawat.
4.       Gas
Penggunaan gas pada lampu pada dasarnya sebagai pengontrol reaksi kimia dan fisika yang berlangsung di dalam tabung, pada beberapa jenis lampu cahaya yang dihasilkan juga dapat berasal dari penggunaan gas untuk mengisi ruang hampa dalam tabung lampu. Reaksi kimia yang terjadi pada banyak material lampu seringkali ditimbulkan dari suhu tinggi yang terjadi pada saat pengoperasian lampu, reaksi kimia seperti oksidasi dan korosi harus secara cermat diperhitungkan untuk menghindari lampu beserta material penyusunnya agar tidak terjadi degradasi yang cepat. Untuk mengontrol reaksi kimia ini banyak digunakan gas yang non-reacting seperti gas argon dan nitrogen, serta gas krypton yang banyak difungsikan sebagai penahan panas dalam tabung lampu. (American History. Lighting A Revolution - Inventing Six Modern Electric Lamp. 2005. 2 Mei 2006 . < http://Americanhistory.si.edu/lighting/ > )



G.    Stop kontak
            Stop kontak atau kotak kontak merupakan kotak tempat sumber arus listrik yang siap pakai. Berdasarkan bentuknya stop kontak dibedakan menjadi stop kontak biasa, stop kontak dengan hubungan tanah dan stop kontak tahan air. Sedangkan berdasarkan pemasangannya stop kontak dibedakan menjadi stop kontak yang ditanam dalam dinding dan stop kontak yang ditanam di permukaan dinding.


Gambar 2.6 Stop kontak
Thuran Gonen, Electric Power Distribution System Engineeing.
New York: McGrawHill Book Company, 1986, p.77


            Cara merawat dan memperbaiki stop kontak yaitu dengan memeriksa hubungan antara tusuk kontak dengan stop kontaknya. Bila kedudukan tusuk kontak goyah (kendor) akan terdengar suara gemerisik loncatan-loncatan bunga api yang berarti hubungannya tidak baik, hal ini dapat diperbaiki dengan jalan membuka stop kontak tersebut dan mengatur lubang stop kontaknya dengan obeng atau tang kecil agar tepat besarnya bila dimasuki tusuk kontak, apabila sudah tidak bisa lagi maka harus diganti dengan yang baru.



H.    Bel Listrik
Bel listrik adalah bel yang  hanya menggunakan system manual dan masih mengeluarkan satu nada atau banyak nada tapi tidak otomatis. Bel merupakan suatu alat yang dapat mengeluarkan bunyi dan mempunyai fungsi sebagai kode, alat pengingat dan alat komunikasi.
Sejak zaman dulu kita telah mengenal bel itu secara sederhana seperti kentongan dan lonceng. Kentungan itu biasanya terbuat dari potongan bambu yang sering kita jumpai di desa-desa dan di poskamling. Sedangkan lonceng, terbuat dari lempengan logam yang dibentuk sedemikian rupa. Lonceng sering dijumpai di wihara, gereja dan sekolah. Kelebihan dari alat-alat  tersebut adalah karena bahannya yang tidak begitu mahal, namun terdapat kekurangan seperti, tidak begitu nyaring bunyinya dan hanya mempunyai satu nada. Seiring dengan perkembangan zaman, bel yang masih sederhana itu dirubah menjadi bel listrik manual namun masih mempunyai  satu nada.










BAB III
KESELAMATAN KERJA
Keselamatan dan kesehatan kerja difilosofikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani maupun rohani tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budayanya menuju masyarakat makmur dan sejahtera.
Sedangkan pengertian secara keilmuan adalah suatu ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) tidak dapat dipisahkan dengan proses produksi baik jasa maupun industri. Perkembangan pembangunan setelah Indonesia merdeka menimbulkan konsekwensi meningkatkan intensitas kerja yang mengakibatkan pula meningkatnya resiko kecelakaan di lingkungan kerja.
Hal tersebut juga mengakibatkan meningkatnya tuntutan yang lebih tinggi dalam mencegah terjadinya kecelakaan yang beraneka ragam bentuk maupun jenis kecelakaannya. Sejalan dengan itu, perkembangan pembangunan yang dilaksanakan tersebut maka disusunlah UU No.14 tahun 1969 tentang pokok-pokok mengenai tenaga kerja yang selanjutnya mengalami perubahan menjadi UU No.12 tahun 2003 tentang ketenaga kerjaan.
Dalam pasal 86 UU No.13 tahun 2003, dinyatakan bahwa setiap pekerja atau buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja, moral dan kesusilaan dan perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat serta nilai-nilai agama.
Untuk mengantisipasi permasalahan tersebut, maka dikeluarkanlah peraturan perundangan-undangan di bidang keselamatan dan kesehatan kerja sebagai pengganti peraturan sebelumnya yaitu Veiligheids Reglement, STBl No.406 tahun 1910 yang dinilai sudah tidak memadai menghadapi kemajuan dan perkembangan yang ada.
Peraturan tersebut adalah Undang-undang No.1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja yang ruang lingkupnya meliputi segala lingkungan kerja, baik di  darat, didalam tanah, permukaan air, di dalam air maupun udara, yang berada di dalam wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia.
Undang-undang tersebut juga mengatur syarat-syarat keselamatan kerja dimulai dari perencanaan, pembuatan, pengangkutan, peredaran, perdagangan, pemasangan, pemakaian, penggunaan, pemeliharaan dan penyimpanan bahan, barang produk tekhnis dan aparat produksi yang mengandung dan dapat menimbulkan bahaya kecelakaan.
Walaupun sudah banyak peraturan yang diterbitkan, namun pada pelaksaannya masih banyak kekurangan dan kelemahannya karena terbatasnya personil pengawasan, sumber daya manusia K3 serta sarana yang ada. Oleh karena itu, masih diperlukan upaya untuk memberdayakan lembaga-lembaga K3 yang ada di masyarakat, meningkatkan sosialisasi dan kerjasama dengan mitra sosial guna membantu pelaksanaan pengawasan norma K3 agar terjalan dengan baik.
Oleh karena itu, kita sendiri yang harus menjaga keselamatan kita agar terhindar dari kecelakaan. Sebelum praktikum hendaknya kita membaca doa terlebih dahulu agar kita selamat.setelah itu kita mempersiapkan peralatan – peralatan yang ingin kita pergunakan terlebih dahulu. Dalam melaksanakan praktikum kita harus mengikuti semua aturan – aturan yang telah kita sepakati bersama – sama agar paktikum berjalan dengan baik.
















BAB IV
PEMBAHASAN

A.    Alat dan Bahan
1.      KWh Meter fasa tunggal dua kawat                     1 buah
2.      MCB ( Mini Circuit Breaker ) 10 A                      1 buah
3.      sekring / fuse                                                         1 buah
4.      saklar tunggal                                                        1 buah
5.      saklar seri                                                              1 buah
6.      lampu pijar 25 watt                                               2 buah
7.      Bel lisrtik                                                               1 buah
8.      Kabel penghubung                                                secukupnya
9.      Stop kontak                                                           1 buah
10.  Tes pen                                                                  1 buah
11.  Multitester                                                             1 buah

B.     Gambar Rangkaian
 









KWh

 

MCB
 
 

                 
Gambar 4.1 Diagram Blok

Gambar 4.2 Single Line


AB8C10D3

Gambar 4.3 Pengawatan


Tabel 4.1 tabel kebenaran
S. Tunggal
S. Seri 1
S. Seri 2
Bel
Lampu 1
Lampu 2
On
Off
Off
X
Off
On
Off
X
Off
Off
On
X


Ket :    X         =          Lampu menyala
        =         Lampu padam

C.     Prinsip Kerja
Apabila KWh Meter sudah terhubung dengan sumber, kemudian MCB ditekan ( on ), maka arus akan mengalir, kemudian arus yang mengalir tersebut diteruskan oleh sekring / fuse, kemudian diteruskan ke seluruh rangkain. Pada saklar tunggal, apabila di tekan ( on ), maka bel akan berbunyi. Dan apabila ditekan lagi, maka bel akan berhenti berbunyi ( off ).
Pada saklar seri, apabila kedua saklar yang terdapat pada saklar seri ditekan ( on ), maka kedua lampu akan menyala, dan apabila kedua saklar pada saklar seri di tekan kembali ( off ), maka kedua lampu akan padam.
Stop kontak bekerja sebagai sumber tegangan untuk perangkat elektronik tambahan. Apabila stop kontak di beri beban semisal kipas angin, dan apabila kipas tersebut di on-kan maka kipas tersebut bekerja.

D.    Analisa
Dari percobaan instalasi diatas di dapat analisa sebagai berikut :
1.      Apabila sumber sudah terhubung dengan KWh Meter dan rangkaian sudah siap digunakan, kemudian saklar tunggal ditekan ( on ), maka bel akan berbunyi.
2.      Apabila bel sudah berbunyi, kemudian saklar tunggal ditekan kembali maka bel akan berhenti berbunyi ( off ).
3.      Pada saklar seri terdapat dua saklar tunggal yang bekerja pada lampu yang berlainan. Pada saklar seri terdapat hubungan paralel.
4.      Apabila saklar 1 pada saklar seri ditekan ( on ), maka lampu 1 akan menyala, dan apabila saklar 1 tersebut ditekan kembali ( off ), maka lampu 1 akan padam.
5.      Apabil saklar 2 pada saklar seri ditekan ( on ), maka lampu 2 akan menyala, dan apabila saklar 2 tersebut ditekan kembali ( off ), maka lampu akan padam.
6.      Pada saklar seri, saklar 1 hanya untuk meng on / off kan lampu 1 dan tidak mempengaruhi lampu 2, begitu juga sebaliknya, saklar 2 pada saklar seri hanya untuk meng on / off  kan lampu 2 saja dan tidak mempengaruhi lampu 1.
7.      Stop kontak bekerja sebagai sumber ( input ) tegangan untuk  perangkat elektronik tambahan, apabila stop kontak diberi beban, dan beban tersebut dinyalakan, maka beban tersebut dapat bekerja.
8.      Apabila arus melebihi nominalnya, maka sekring / fuse akan putus dan MCB akan turun , sehingga arus tidak mengalir, ini bertujuan agar tidak terjadi hal – hal yang tidak diinginkan.
9.      Setelah di ukur dengan menggunakan multitester, tegangan yang terdapat di sumber ( KWh meter ) sebesar 200 V, tegangan yang terdapat di bel, lampu 1, lampu 2, dan stop kontak juga sama yaitu sebesar 200 V. itu menunjukan bahwa rangkaian kita terhubung secara paralel, karena tegangan tidak terbagi.
10.  Apabila dalam rangkaian ada terdapat kejanggalan , kemungkinan yang terjadi adalah rangkaian kita tidak benar dan harus diperbaiki.
11.  Apabila rangkaian kita sudah benar dan lampu masih tidak menyala kemungkinan yang terjadi adalah sumber yang di dapatkan oleh KWh Meter terbalik ( phasa dan netralnya ), hal yang harus dilakukan ialah membalikan phasa dan netralnya tersebut.




















BAB V
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari percobaan praktikum di atas kita dapat mengetahui bagaimana cara menginstalasi satu buah saklar tunggal, satu buah saklar seri, dan satu buah stop kontak. Saklar hanya bekerja sebagai pemutus dan penyambung arus, sedangkan stop kontak bekerja sebagai sumber tegangan tambahan. Saklar tunggal, saklar seri, maupun stop kontak tidak berfungsi sebagai pengaman, karena tidak dapat memutus arus secara otomatis apabila terjadi ganguan, yang berfungsi sebagai pengaman ialah sekring / fuse dan juga MCB, karena dapat memutus secara otomatis apabila terjadi gangguan.
Ketika saklar tunggal di  tekan ( on ), maka bel akan berbunyi dan  ketika saklar  ditekan kembali ( off ) maka bel akan berhenti berbunyi. Ketika saklar seri 1 ditekan maka lampu 1 akan menyala, dan ketika saklar seri 1 di tekan kembali, maka lampu 1 akan padam. Ketika saklar seri 2 ditekan maka lampu 2 akan menyala, dan ketika saklar seri 2 di tekan kembali, maka lampu 2 akan padam. Dalam rangkaian stop kontak merupakan sumber tegangan tambahan untuk perangkat tambahan.
 Ketika saklar di  tekan  ( on ) lampu tidak menyala, maka kita harus mengecek rangkaian instalasi kita, karena mungkin saja instalasi kita terdapat kesalahan. Rankaian tersusun secara paralel karena setelah di ukur menggunakan multitester sumber tegangan memiliki tegangan sebesar 200 V, tegangan di lampu 1, lampu 2, dan stop kontak juga 200 V.
B.     Saran
Untuk mendapatkan hasil instalasi yang baik dan benar, hendaknya kita memperhatikan gambar rangkaian yang sudah di gambar agar hasilnya sesuai dengan apa yang dikehandaki. Ketika melakukan instalasi harus berhati – hati terhadap segala macam kecelakaan, karena dapat merugikan kita sendiri, oleh karena itu kita harus benar – benar memperhatikan keamanan dan keselamatan dalam melakukan suatu pekerjaan.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar